Halaman

Senin, 02 Mei 2011

Permintaan maaf yang efektif ( effective apology )

Secara psikologis dan teologis kita tidak boleh memendam perasaan bersalah ( guilty feeling ). Perasaan bersalah yang merasuk di dalam hati akan menjadi beban psikologis yang berat bagi seseorang. Dan agama pun mengajarkan untuk meminta maaf dan bertobat. Bertobat artinya kembali ke jalan yang benar secara istiqamah. Bila orang yang berbuat salah itu tidak segera meminta maaf, maka ia akan terus tertekan jiwanya. Sementara perasaan orang yang terzalimi akibat perbuatan salah tersebut akan cenderung menimbulkan perasaan dendam yang berlarut.

Dengan demikian, keduanya akan terbebani oleh faktor kejiwaan dari perbuatan salah tersebut. Untuk bebas dari beban tersebut kita berkewajiban meminta dan memberi maaf. Seseorang yang memberi maaf derajatnya lebih mulia karena ia yang terzalimi, tapi dengan tulus memaafkan. Sementara yang berbuat salah harus meminta maaf. Meminta maaf bukanlah suatu kelemahan, tapi justru menunjukkan sebuah kekuatan, karakter, dan integritas, demikian tulis John Kador, seorang yang banyak menulis tentang keefektifan permintaan maaf.

Kata maaf merupakan kata serapan dari Bahasa Arab. Al-afwu berarti penghapusan, yaitu menghapus kesalahan, menutup lembaran lama yang hitam dan membuka lembaran baru yang putih sebagai cerminan sikap seseorang yang akan melangkah on the right track.

Permintaan maaf yang efektif ( effective apology ), menurut John Kador memiliki beberapa sifat. Pertama, harus memiliki sifat transaksional, karena itu permintaan maaf harus dapat memulihkan keseimbangan dalam hubungan yang bermasalah antara kedua pihak. Yang memintaa maaf harus dengan jujur mengakui kesalahan yang diperbuatnya.

Mungkin Anda masih ingat permintaan maaf berikut ini beberapa bulan lalu.

“Atas nama pribadi dan atas nama keluarga, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya.Saya memohon maaf atas pemberitaan baru-baru ini yang menyangkut diri saya, yang telah menimbulkan keresahan dan ketidaknyamanan di kalangan masyarakat.”

Ia membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk mengajukan permintaan maafnya yang jelas tidak efektif itu.

Kedua, harus memiliki sifat transformasional, karena permintaan maaf itu harus memiliki kekuatan untuk mengubah sifat dasar hubungan yang retak akibat sebuah perbuatan yang salah. Keinginan untuk menghapus kesalahan yang tidak trasformatif tidak akan memberikan dampak yang signifikan. Kekuatan trasformatif akan memulihkan hubungan yang retak, menciptakan kemungkinan pertumbuhan positif, dan menghasilkan sesuatu yang baik bagi semua orang. Karena itu di dalam agama kita mengenal pertobatan, sebuah upaya menghapus kesalahan yang trasformatif dan konsisten.

Ketiga, sebuah permintaan maaf harus mengungkapkan empati. Sebuah empati akan terasa dari permintaan maaf yang tulus disertai dengan niat yang baik untuk memperbaiki diri. Permintaan maaf di atas yang walau diiringi dengan derai air mata sama sekali tidak mengungkapkan empati, tapi malah hanya sekedar ingin mengundang simpati saja.

Permintaan maaf, menurut John Kador, juga berfungsi mending fences. Mending fences berarti to repair a relationship with someone, atau to restore good relations with someone. Juga berfungsibuilding bridges, menjembatani dua pihak, yang bersalah dan yang terzalimi akibat perbuatan salah pihak lain.

Sebuah permintaan maaf hendaknya juga berfungsi restoring trust, memulihkan kepercayaan. Kepercayaan orang akan berkurang atau bahkan hilang karena suatu kesalahan yang diperbuat. Untuk itu, kata-kata maaf harus mampu memulihkan kembali kepercayaan orang lain.

Permintaan maaf yang efektif harus memiliki ketiga sifat dan ketiga fungsi di atas. Tanpa itu, kata-kata maaf tidak akan banyak memberikan dampak positif yang signifikan untuk kebaikan bersama selanjutnya. “An effective apology is more than just a quick ‘I’m sorry’”, kata John Kador.

Memang, tulis John Kador lagi, “Apology is not cost-free, but it’s less expensive than denial, stonewalling and defensiveness”.



sumber : http://abdaz.wordpress.com/2010/10/18/permintaan-maaf-yang-efektif/

Fenomena berpasang-pasangan atas segala sesuatu

Qur-an yang berulang-ulang menyebut adanya pasangan dalam alam tumbuh-tumbuhan, juga menyebut adanya pasangan dalam rangka yang lebih umum, dan dengan batas-batas yang tidak ditentukan.

“Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa-apa yang mereka tidak ketahui.” (QS. 36:36)

Kita dapat mengadakan hipotesa sebanyak-banyaknya mengenai arti hal-hal yang manusia tidak mengetahui pada zaman Nabi Muhammad. Hal-hal yang manusia tidak mengetahui itu termasuk di dalamnya susunan atau fungsi yang berpasangan baik dalam benda yang paling kecil atau benda yang paling besar, baik dalam benda mati atau dalam benda hidup. Yang penting adalah untuk mengingat pemikiran yang dijelaskan dalam ayat itu secara gamblang dan untuk mengetahui bahwa kita tidak menemukan pertentangan dengan Sains masa ini.

Meskipun gagasan tentang “pasangan” umumnya bermakna laki-laki dan perempuan, atau jantan dan betina, ungkapan “maupun dari apa yang tidak mereka ketahui” dalam ayat di atas memiliki cakupan yang lebih luas. Kini, cakupan makna lain dari ayat tersebut telah terungkap. Ilmuwan Inggris, Paul Dirac, yang menyatakan bahwa materi diciptakan secara berpasangan, dianugerahi Hadiah Nobel di bidang fisika pada tahun 1933. Penemuan ini, yang disebut “parité”, menyatakan bahwa materi berpasangan dengan lawan jenisnya: anti-materi. Anti-materi memiliki sifat-sifat yang berlawanan dengan materi. Misalnya, berbeda dengan materi, elektron anti-materi bermuatan positif, dan protonnya bermuatan negatif. Fakta ini dinyatakan dalam sebuah sumber ilmiah sebagaimana berikut:

“…setiap partikel memiliki anti-partikel dengan muatan yang berlawanan … dan hubungan ketidakpastian mengatakan kepada kita bahwa penciptaan berpasangan dan pemusnahan berpasangan terjadi di dalam vakum di setiap saat, di setiap tempat.”

Semua ini menunjukkan bahwa unsur besi tidak terbentuk di Bumi, melainkan dibawa oleh meteor-meteor melalui ledakan bintang-bintang di luar angkasa, dan kemudian “dikirim ke bumi”, persis sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut. Jelas bahwa fakta ini tak mungkin diketahui secara ilmiah pada abad ke-7, di saat Al Qur’an diturunkan. (http://www.2think.org/nothingness.html, Henning Genz - Nothingness: The Science of Empty Space, s. 205)

JADI YANG BELUM DAPAPET JODOH JANGAN KHAWATIR..

HEHEHE....Xp

Rabu, 27 April 2011

Coca-Cola



Ada 3 kaleng coca cola, ketiga kaleng tersebut diproduksi di pabrik yang sama.
Ketika tiba harinya, sebuah truk datang ke pabrik, mengangkut kaleng-kaleng coca cola dan menuju ke tempat yang berbeda untuk pendistribusian.

Pemberhentian pertama adalah supermarket lokal. Kaleng coca cola pertama diturunkan di sini.
Kaleng itu dipajang di rak bersama dengan kaleng coca cola lainnya yang diberi harga Rp.4.000,00.

Pemberhentian kedua adalah pusat perbelanjaan besar. Di sana, kaleng kedua diturunkan.
Kaleng tersebut ditempatkan di dalam kulkas supaya dingin dan dijual dengan harga Rp.7.500,00.

Pemberhentian terakhir adalah hotel bintang 5 yang sangat mewah.
Kaleng coca cola ketiga diturunkan di sana. Kaleng ini tidak ditempatkan di rak atau di dalam kulkas. Kaleng ini hanya akan dikeluarkan jika ada pesanan dari pelanggan.
Dan ketika ada yang pesan, kaleng ini dikeluarkan bersama dengan gelas kristal berisi batu es. Semua disajikan di atas baki dan pelayan hotel akan membuka kaleng coca cola itu, menuangkannya ke dalam gelas dan dengan sopan menyajikannya ke pelanggan. Harganya Rp.60.000,00.

Sekarang, pertanyaannya adalah : Mengapa ketiga kaleng coca cola tersebut memiliki harga yang berbeda? Padahal diproduksi dari pabrik yang sama, diantar dengan truk yang sama dan bahkan mereka memiliki rasa yang sama!

Lingkungan Anda mencerminkan harga Anda.

Lingkungan berbicara tentang RELATIONSHIP

Apabila Anda berada di lingkungan yang bisa mengeluarkan Yg terbaik dari diri anda, maka Anda akan menjadi cemerlang.

Orang yang sama, bakat yang sama, kemampuan yang sama + lingkungan yang berbeda = NILAI YANG BERBEDA


Selamat menjadi "cocacola" yg terbaik.
Be The Best You Can Do!
Lingkungan yang buruk merusak kebiasaan yang baik

Kita Tidak Ditentukan Orang Lain


Dua orang sahabat sedang menghampiri kios koran dan membeli beberapa koran serta majalah. Penjual koran yang seharusnya gembira ternyata melayani dengan buruk, tidak sopan, dan dengan muka cemberut. Orang pertama jelas jengkel menerima layanan yang buruk seperti itu. Yang mengherankan, orang kedua tetap enjoy, bahkan bersikap sopan kepada penjual tersebut.
Orang pertama bertanya kepada sahabatnya, “Mengapa kamu bersikap sopan kepada penjual menyebalkan itu?”
Sahabatnya menjawab, “Mengapa aku harus mengizinkan dia menentukan caraku dalam bertindak?”

Yes.!

Itulah pointnya!

Jangan pernah biarkan orang lain menentukan cara kita bertindak, Seandainya orang tersebut sedang melakukan hal yang buruk kepada kita. Sayangnya, sering kali kita tidak berbuat demikian. Tindakan kita kerap dipengaruhi oleh tindakan orang lain kepada kita. Kalau mereka melakukan hal yang buruk, kita akan membalasnya dengan hal yang lebih buruk lagi. Kalau mereka tidak sopan, kita akan lebih tidak sopan lagi. Kalau orang lain pelit terhadap kita, kita yang semula pemurah tiba2 jadinya sedemikian pelit kalau harus berurusan dengan orang tersebut.

Harus saya akui, kadang kala saya gagal juga dalam hal ini, khususnya saat saya berkendara. Saat ada mobil lain menyerobot jalan dengan seenaknya, saya tiba2 jadi jengkel & berusaha membalasnya/ada teman yang menjengkelkan,maka saya balas. Tindakan saya dipengaruhi oleh tindakan org lain terhadap saya. Di sisi lain, saya bisa berbuat sedemikian baik, santun, dan luar biasa terhadap orang yang juga melakukan hal yang sama kepada saya. Saat saya merenung2 tentang hal ini, saya jadi malu sendiri. Mengapa tindakan saya harus dipengaruhi oleh orang lain.? Mengapa untuk berbuat baik saja, saya harus menunggu diperlakukan dengan baik oleh orang lain dulu.?

Bagaimana dengan Anda.?

Apakah Anda juga punya “penyakit” seperti saya.?

Jaga suasana hati, jangan biarkan sikap buruk orang lain kepada kita menentukan cara kita bertindak.!

Pilihlah tetap berbuat baik, skalipun menerima hal yg tidak baik.!

Decision to act is in the hands of our own.!