Halaman

Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Juni 2013

Malam

Malam tidak pernah serumit pagi,,
Malam tidak pernah sepadat siang,,
Malam tidak pernah sepadan sore,,

Dan cuma malam yang selalu menginspirasi,,

Tapi bukan berarti hidup dimalam hari sepandai pagi,siang, atau sore,,

Malam seharusnya waktu terindah untuk bermimpi indah

Minggu, 23 Desember 2012

Menyerah Terhadap Insting Hati


Sebuah kisah yang saya cuplik dari buku #respectYourSelf

~ Seorang pencari spiritual muda dimarahi habis-habisan oleh gurunya karena gagal menjalankan tugas dengan baik. Seorang murid lain yang lebih berpengalaman yang berada disana saat itu meliha kecemasan si Pemuda itu kemudian bertanya, "Kamu tahu kenapa gurumu begitu keras terhadapmu?"

si Pemuda mengakui bahwa kemarahan gurunya itu sepertinya tdak pantas dia terima dan dia tidak mengerti mengapa dia dipersalahkan. Murid yang lebih berpengalaman itupun menjelaskan kepada si Pemuda bahwa ada tiga kelas murid.

Murid kelas tiga hanya mematuhi perintah gurunya, 
Murid kelas dua tidak perlu di instruksikan untuk melakukan sesuatu, dia merasakan kebutuhan gurunyasetelah pikiran muncul dari benak gurunya
Murid kelas satu dia bahkan bisa bertindak sebelum sang guru punya waktu untuk memikirkan kebutuhannya.

Hal seperti ini sama halnya dengan seorang pelatih atlet yang mendorong para pemain keluar dari zona nyaman untuk membuat alet tersebut menjadi lebih kuat. guru yang keras dalam kisah ini menginginkan muridnya yang muda menjadi murid kelas satu, bukan pemberi rata-rata. Dia ingin si Murid mempelajari betapa pentingnya membuka hati kita dalam berbagai hubungan dan mengantisipasi kebutuhan orang lain. itulah sebabnya dia begitu tegas dalam menekankan pelajaran itu ~

Hidup mengimbau kita untuk menyerah tercerhadap insting hati yang sama, untuk menjadi sangat tanggap terhadap kebutuhan orang lain sehingga kita menjadi alat penyembuh dan kenyamanan yang siap. Ini bukanlah tujun tinggi yang tidak bisa di capai. Dengan cara Anda sendiri, Anda akan selalu memiliki sesuatu untuk diberikan, baik itu senyum enyemangat, kata-kata penghargaan, uluran tangan, perspektifatau kemahiran khusus, atau kerelaan untuk mendengarkan. Anda mempunyai peran untuk bermain dalam lingkup pengaruh Anda, dan hati Anda akan memperlihatkan kepada Anda apa yang perlu diberikan, dan  kapan memberikannya. Anda hanya perlu mendengarkan.

---------------------------------------------------------------------------------------------

Dari cuplikan diatas sebetulnya satu poin penting yang perlu di terapkan dalam segala jenis hubungan sesama manusia adalah “ANDA HANYA PERLU MENDENGARKAN”. Poin penting inilah yang sering terlewatkan oleh kita sebagai manusia yang memang di ciptakan sebagai makhluk sosial. Dengan banyak tuntutan terhadap kita, seringkali kita dapati diri sendiri berbicara atau mendengarkan seseorang yang membutuhkan kita sambil melakukan aktivitas lain. Hanya setengah dari diri kita yang berada disana ~HANYA SETENGAH MEMBERI~. Tidak mungkin untuk memberi sepenuhnya kecuali dengan memusatkan perhatian. Kedengarannya mudah kan? Seberapa sering kita mempertahankan sebuah hubungan yang tidak terputus dengan mereka yan membutuhkan kita?

Selasa, 24 Mei 2011

garam,segelas air,telaga (Motivasi)



Ada seorang tua yang bijak. Suatu pagi ia kedatangan anak muda. Langkahnya gontai. Air mukanya ruwet. Ia seperti sedang dirundung masalah. Anak muda itu menumpahkan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak mendengarkan dengan seksama. Setelah tamunya tuntas bercerita, tiba-tiba orangtua itu mengambil garam dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu ke dalam gelas. Diaduknya perlahan.



"Minum dan katakan bagaimana rasanya!" kata Pak Tua itu singkat.
"Puih......!" Sang tamu meludah ke samping. "Asin sekali. Tenggorokanku seperti tercekik," kata si pemuda itu lagi.
Pak Tua itu tersenyum. ia lalu mengajak tamunya ke tepi telaga di dalam hutan yang dekat, tak jauh dari tempat tinggalnya. Pak Tua itu menaburkan segenggam garam ke dalam telaga. dengan sepotong kayu diaduknya air di tepian telaga itu.
"Ambil air dari telaga ini dan minumlah!" setelah si pemuda selesai meneguk air itu, Pak Tua bertanya,"Bagaimana rasanya?"
"Segar" jawab pemuda itu.
"Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?"
"Tidak"
Pak Tua itu tersenyum bijak. ia tepuk punggung si pemuda. Lembut. Dibimbingnya anak muda itu bersimpuh di sisi telaga.
"Anak Muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan adalah layaknya segenggam garam. tak lebih dan tak kurang.Jumlah dan rasa pahitnya sama, dan memang akan tetap sama." Tutur Pak Tua.
"Tapi, kepahitan yang kita rasakan akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu akan terasakan tergantung pada hati kita. Jadi, saat engkau merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa engkau lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung semua kepahitan itu."
Pak Tua menatap si pemuda lembut. "Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan dan mengubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan."

Jumat, 20 Mei 2011

Mario Teguh ( Motivator )


SALAM SUPER!!
anda kenal siapa yang sering mengatakan kata-kata diatas?
ya, benar MARIO TEGUH namanya.
Saya rasa banyak diantara masyarakat banyak yang sudah mengenal sosok beliau,,
tapi saya akan sedikit mengulas tentang profil beliau :



Nama : Sis Maryono Teguh
Lahir : Makassar pada tanggal 5 Maret 1956
Agama : Islam
Orang Tua : Ayah Gozali Teguh, seorang tentara keturunan Jawa-Cina dan Ibu Siti
Maria, keturunan Arab-Bugis.
Istri : Linna Mario Teguh
Anak : Audrey Teguh dan Marco Teguh.
Pendidikan :
* New Trier West High (setingkat SMA) di Chicago, AS, 1975
* Jurusan Linguistik & Pelajaran Bahasa Inggris, IKIP Malang (S-1)
* Jurusan Interaksi Bisnis, Sophia University, Tokyo, Jepang
* Jurusan Operations System (MBA) Indiana University, Amerika Serikat, 1983
Pengalaman Profesional :
* Citibank Indonesia (1983 - 1986) as Head of Sales
* BSB Bank (1986 - 1989) as Manager Business Development
* Aspac Bank (1990 - 1994) as Vice President Marketing & Organization Development
* Exnal Corp Jakarta (1994 - present) as CEO, Senior Consultant

Program TV dan Buku :
* Mario Teguh Golden Ways, Metro TV.
* Business Art, O’Channel.
* Becoming a Star (2006)
* One Million Second Chances (2006)
* Leadership Golden Ways (2009
* Life Changer (2009)

SUPER SEKALI....!!!

kata-kata itu yang sering beliau ucapkan untuk mengangkat motivasi orang-orang di sekelilingnya,,
Mario Teguh adalah salah satu motivator handal yang dimiliki Indonesia..
beliau telah memberikan banyak motivasi-motivasi dahsyat yang menggugah masyarakat indonesia untuk lebih bijak dan percaya akan kemampuan diri sendiri.

Mau download kata2 motivasi dari beliau untuk mengispirasi anda??
silahkan download disini
semoga motivasi ini terrsebar ke semua masyarakat Indonesia

Salam Super dari saya. ^^

Rabu, 18 Mei 2011

Bicara dengan Banyak Jeda Lebih Persuasif


INILAH.COM, Michigan - Studi baru menemukan fakta, orang yang berbicara dengan jeda dan tidak terlalu cepat, adalah orang yang kata-katanya paling mungkin berhasil meyakinkan pendengarnya.

Jose Benki memiliki ketertarikan meneliti pidato dan dunia psikolinguistik. Ilmuwan dari University of Michigan ini mengatakan, orang yang kecepatan bicaranya sekitar 3,5 kata per detik, akan lebih berkemungkinan disetujui pendengarnya daripada orang yang berbicara lebih cepat atau lebih lambat.

Benki meneliti 1.380 hasil rekaman telepon yang dilakukan oleh 100 orang yang meminta orang lain berpartisipasi dalam sebuah survei. Hasil rekaman itu lalu dianalisis kelancaran dan kedalaman suaranya, dan korelasi kedua variabel itu terhadap kemampuan partisipan dalam meyakinkan orang lain.

Hasilnya, pria yang suaranya tinggi cenderung lebih rendah kemampuan persuasinya dibandingkan pria bersuara lebih dalam. Tapi kedalaman suara tidak menunjukkan pengaruh signifikan bagi perempuan.

Para peneliti juga memeriksa penggunaan jeda dalam berbicara. Mereka menemukan, orang yang bicara dengan menerapkan jeda-jeda pendek yang lebih sering, akan cenderung lebih mampu mempersuasi orang lain ketimbang orang yang bicaranya terlalu lancar.

“Penggunaan jeda yang dimaksud adalah sekitar 4-5 kali per menit,” ungkap Benki.

Pewawancara tidak membuat jeda sama sekali, adalah yang paling rendah tingkat persetujuannya. Namun orang yang bicara dengan terlalu banyak jeda, walaupun dianggap gagap, mereka justru memiliki tingkat keberhasilan lebih tinggi daripada orang yang bicaranya terlalu lancar. [mor]

suber : http://id.berita.yahoo.com/bicara-dengan-banyak-jeda-lebih-persuasif-093600586.html

Senin, 02 Mei 2011

Aku rindu ak yang dulu

lidah ini kaku..
tak mau mengaku..
hanya diam seperti batu..

semuanya berakhir begitu saja seperti mimpi..
serpihan knangan dalam satu hari..
seperti bermimpi dalam mimpi..
tak mungkin kembali lagi..

telingaku panas,,tanganku gatal,,hati ku galau..
mendengar bisikan ttg luka yang sudah ku pendam..

hatiku terabrasi perhalan,,
berdiri menerpa ombak yang datang perlahan tapi menghujam..

bukan ini yang ku inginkan..
ak tak ingin berdiri sendiri menentang deru ombak yang datang kembali..
dengan tamengku terlalu jauh disana,,tak sanggup ku raih untuk melindungiku..
dengan pelampung yang bocor,,tak sanggup aku selalu berada di atas permukaan..

aku rindu ak yang dulu..
yang bersemangat menantang ombak..
walau tanpa tameng dan sebuah pelampung..
tanpa harapan menjadi seseorang yang special dimata siapapun..
hanya berusaha melakukan yang terbaik..
bukan seperti sekarang yang hanya berambisi tanpa tujuan..


Muhammad Bakhtiar Rivai

Permintaan maaf yang efektif ( effective apology )

Secara psikologis dan teologis kita tidak boleh memendam perasaan bersalah ( guilty feeling ). Perasaan bersalah yang merasuk di dalam hati akan menjadi beban psikologis yang berat bagi seseorang. Dan agama pun mengajarkan untuk meminta maaf dan bertobat. Bertobat artinya kembali ke jalan yang benar secara istiqamah. Bila orang yang berbuat salah itu tidak segera meminta maaf, maka ia akan terus tertekan jiwanya. Sementara perasaan orang yang terzalimi akibat perbuatan salah tersebut akan cenderung menimbulkan perasaan dendam yang berlarut.

Dengan demikian, keduanya akan terbebani oleh faktor kejiwaan dari perbuatan salah tersebut. Untuk bebas dari beban tersebut kita berkewajiban meminta dan memberi maaf. Seseorang yang memberi maaf derajatnya lebih mulia karena ia yang terzalimi, tapi dengan tulus memaafkan. Sementara yang berbuat salah harus meminta maaf. Meminta maaf bukanlah suatu kelemahan, tapi justru menunjukkan sebuah kekuatan, karakter, dan integritas, demikian tulis John Kador, seorang yang banyak menulis tentang keefektifan permintaan maaf.

Kata maaf merupakan kata serapan dari Bahasa Arab. Al-afwu berarti penghapusan, yaitu menghapus kesalahan, menutup lembaran lama yang hitam dan membuka lembaran baru yang putih sebagai cerminan sikap seseorang yang akan melangkah on the right track.

Permintaan maaf yang efektif ( effective apology ), menurut John Kador memiliki beberapa sifat. Pertama, harus memiliki sifat transaksional, karena itu permintaan maaf harus dapat memulihkan keseimbangan dalam hubungan yang bermasalah antara kedua pihak. Yang memintaa maaf harus dengan jujur mengakui kesalahan yang diperbuatnya.

Mungkin Anda masih ingat permintaan maaf berikut ini beberapa bulan lalu.

“Atas nama pribadi dan atas nama keluarga, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya.Saya memohon maaf atas pemberitaan baru-baru ini yang menyangkut diri saya, yang telah menimbulkan keresahan dan ketidaknyamanan di kalangan masyarakat.”

Ia membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk mengajukan permintaan maafnya yang jelas tidak efektif itu.

Kedua, harus memiliki sifat transformasional, karena permintaan maaf itu harus memiliki kekuatan untuk mengubah sifat dasar hubungan yang retak akibat sebuah perbuatan yang salah. Keinginan untuk menghapus kesalahan yang tidak trasformatif tidak akan memberikan dampak yang signifikan. Kekuatan trasformatif akan memulihkan hubungan yang retak, menciptakan kemungkinan pertumbuhan positif, dan menghasilkan sesuatu yang baik bagi semua orang. Karena itu di dalam agama kita mengenal pertobatan, sebuah upaya menghapus kesalahan yang trasformatif dan konsisten.

Ketiga, sebuah permintaan maaf harus mengungkapkan empati. Sebuah empati akan terasa dari permintaan maaf yang tulus disertai dengan niat yang baik untuk memperbaiki diri. Permintaan maaf di atas yang walau diiringi dengan derai air mata sama sekali tidak mengungkapkan empati, tapi malah hanya sekedar ingin mengundang simpati saja.

Permintaan maaf, menurut John Kador, juga berfungsi mending fences. Mending fences berarti to repair a relationship with someone, atau to restore good relations with someone. Juga berfungsibuilding bridges, menjembatani dua pihak, yang bersalah dan yang terzalimi akibat perbuatan salah pihak lain.

Sebuah permintaan maaf hendaknya juga berfungsi restoring trust, memulihkan kepercayaan. Kepercayaan orang akan berkurang atau bahkan hilang karena suatu kesalahan yang diperbuat. Untuk itu, kata-kata maaf harus mampu memulihkan kembali kepercayaan orang lain.

Permintaan maaf yang efektif harus memiliki ketiga sifat dan ketiga fungsi di atas. Tanpa itu, kata-kata maaf tidak akan banyak memberikan dampak positif yang signifikan untuk kebaikan bersama selanjutnya. “An effective apology is more than just a quick ‘I’m sorry’”, kata John Kador.

Memang, tulis John Kador lagi, “Apology is not cost-free, but it’s less expensive than denial, stonewalling and defensiveness”.



sumber : http://abdaz.wordpress.com/2010/10/18/permintaan-maaf-yang-efektif/

Rabu, 27 April 2011

Coca-Cola



Ada 3 kaleng coca cola, ketiga kaleng tersebut diproduksi di pabrik yang sama.
Ketika tiba harinya, sebuah truk datang ke pabrik, mengangkut kaleng-kaleng coca cola dan menuju ke tempat yang berbeda untuk pendistribusian.

Pemberhentian pertama adalah supermarket lokal. Kaleng coca cola pertama diturunkan di sini.
Kaleng itu dipajang di rak bersama dengan kaleng coca cola lainnya yang diberi harga Rp.4.000,00.

Pemberhentian kedua adalah pusat perbelanjaan besar. Di sana, kaleng kedua diturunkan.
Kaleng tersebut ditempatkan di dalam kulkas supaya dingin dan dijual dengan harga Rp.7.500,00.

Pemberhentian terakhir adalah hotel bintang 5 yang sangat mewah.
Kaleng coca cola ketiga diturunkan di sana. Kaleng ini tidak ditempatkan di rak atau di dalam kulkas. Kaleng ini hanya akan dikeluarkan jika ada pesanan dari pelanggan.
Dan ketika ada yang pesan, kaleng ini dikeluarkan bersama dengan gelas kristal berisi batu es. Semua disajikan di atas baki dan pelayan hotel akan membuka kaleng coca cola itu, menuangkannya ke dalam gelas dan dengan sopan menyajikannya ke pelanggan. Harganya Rp.60.000,00.

Sekarang, pertanyaannya adalah : Mengapa ketiga kaleng coca cola tersebut memiliki harga yang berbeda? Padahal diproduksi dari pabrik yang sama, diantar dengan truk yang sama dan bahkan mereka memiliki rasa yang sama!

Lingkungan Anda mencerminkan harga Anda.

Lingkungan berbicara tentang RELATIONSHIP

Apabila Anda berada di lingkungan yang bisa mengeluarkan Yg terbaik dari diri anda, maka Anda akan menjadi cemerlang.

Orang yang sama, bakat yang sama, kemampuan yang sama + lingkungan yang berbeda = NILAI YANG BERBEDA


Selamat menjadi "cocacola" yg terbaik.
Be The Best You Can Do!
Lingkungan yang buruk merusak kebiasaan yang baik

Kita Tidak Ditentukan Orang Lain


Dua orang sahabat sedang menghampiri kios koran dan membeli beberapa koran serta majalah. Penjual koran yang seharusnya gembira ternyata melayani dengan buruk, tidak sopan, dan dengan muka cemberut. Orang pertama jelas jengkel menerima layanan yang buruk seperti itu. Yang mengherankan, orang kedua tetap enjoy, bahkan bersikap sopan kepada penjual tersebut.
Orang pertama bertanya kepada sahabatnya, “Mengapa kamu bersikap sopan kepada penjual menyebalkan itu?”
Sahabatnya menjawab, “Mengapa aku harus mengizinkan dia menentukan caraku dalam bertindak?”

Yes.!

Itulah pointnya!

Jangan pernah biarkan orang lain menentukan cara kita bertindak, Seandainya orang tersebut sedang melakukan hal yang buruk kepada kita. Sayangnya, sering kali kita tidak berbuat demikian. Tindakan kita kerap dipengaruhi oleh tindakan orang lain kepada kita. Kalau mereka melakukan hal yang buruk, kita akan membalasnya dengan hal yang lebih buruk lagi. Kalau mereka tidak sopan, kita akan lebih tidak sopan lagi. Kalau orang lain pelit terhadap kita, kita yang semula pemurah tiba2 jadinya sedemikian pelit kalau harus berurusan dengan orang tersebut.

Harus saya akui, kadang kala saya gagal juga dalam hal ini, khususnya saat saya berkendara. Saat ada mobil lain menyerobot jalan dengan seenaknya, saya tiba2 jadi jengkel & berusaha membalasnya/ada teman yang menjengkelkan,maka saya balas. Tindakan saya dipengaruhi oleh tindakan org lain terhadap saya. Di sisi lain, saya bisa berbuat sedemikian baik, santun, dan luar biasa terhadap orang yang juga melakukan hal yang sama kepada saya. Saat saya merenung2 tentang hal ini, saya jadi malu sendiri. Mengapa tindakan saya harus dipengaruhi oleh orang lain.? Mengapa untuk berbuat baik saja, saya harus menunggu diperlakukan dengan baik oleh orang lain dulu.?

Bagaimana dengan Anda.?

Apakah Anda juga punya “penyakit” seperti saya.?

Jaga suasana hati, jangan biarkan sikap buruk orang lain kepada kita menentukan cara kita bertindak.!

Pilihlah tetap berbuat baik, skalipun menerima hal yg tidak baik.!

Decision to act is in the hands of our own.!